• Home
  • About us
  • SMP
  • SMA
    • Alumni
  • Rekrutmen
  • Prestasi
    • Profil Guru Berprestasi
    • Profil Siswa Berprestasi
    • Kolom Guru
  • Contact us
  • PPDB
  • Pustaka
  • News
    • Galery
    • Tabloid
ICBS
  • Home
  • About us
  • SMP
  • SMA
    • Alumni
  • Rekrutmen
  • Prestasi
    • Profil Guru Berprestasi
    • Profil Siswa Berprestasi
    • Kolom Guru
  • Contact us
  • PPDB
  • Pustaka
  • News
    • Galery
    • Tabloid

Kisah Para Juara

Home » Perjalanan Menuju Medali Perak: Cerita Emir dan OSN Kimia

Perjalanan Menuju Medali Perak: Cerita Emir dan OSN Kimia

  • Posted by Admin
  • Date 9 February, 2026

Jujur saja, akhir-akhir ini rasanya capek. Capek yang menyenangkan. Capek karena dari satu episode ke episode lain, ICBS selalu menghadirkan tamu-tamu luar biasa. Ada santri kelas 11 yang turun langsung membantu korban bencana. Ada delegasi nasional Olimpiade Bahasa Arab. Ada finalis nasional lomba fiksi. Dan hari ini—rasanya levelnya naik lagi.

Hari ini kita kedatangan seorang santri dengan medali perak OSN Kimia tingkat nasional. Kimia. Ilmu tentang sesuatu yang bahkan tak terlihat—gas, reaksi, rumus—tapi bisa mengantarkan seseorang ke panggung nasional.

Namanya Muhammad Emir Alyvic, santri kelas 12 asal Batusangkar. Kami sebenarnya sudah lama saling kenal. Sama-sama pernah berkutat di dunia olimpiade sains. Bedanya, takdir membawa kami ke garis finish yang berbeda. Saya berhenti di tengah jalan, sementara Emir terus melaju.

Yang menarik, perjalanan Emir ke OSN Kimia tidak dimulai dari mimpi besar.

Saat awal masuk kelas 10, Emir bahkan belum pernah terpikir untuk ikut OSN. Tidak ada latar belakang olimpiade sejak SD atau SMP. Semua bermula dari hal sederhana: ajakan seorang teman. Awalnya dia mencoba fisika. Pinjam buku guru, belajar sebisanya—tapi tak ada rasa nyambung. Tidak paham, tidak klik.

Sampai suatu hari, ia melihat teman-temannya mengikuti pembinaan kimia. Ia meminjam buku, mencoba membaca. Pelan-pelan, muncul satu hal yang krusial: feeling.
“Ini kayaknya materi yang bisa kupahami,” katanya.

Dari situlah kimia mulai dipelajari, sebagian besar secara otodidak. Bahkan ketika seleksi sekolah semakin dekat dan Emir belum ikut pembinaan apa pun, ia tetap mencoba. “Coba-coba saja,” pikirnya. Dan ternyata—lulus.

Tahun pertama, Emir melangkah hingga tingkat provinsi. Belum lolos nasional. Tapi justru di situlah titik baliknya. Ia mengikuti pelatihan tingkat nasional di Bandung dan tersadar: materinya jauh lebih dalam, lebih luas, dan lebih berat dari yang ia bayangkan.

Di situlah ia paham satu hal penting:
kalau ingin sampai nasional, apalagi internasional, usaha harus naik level.

Masuk tahun kedua, Emir tidak lagi setengah-setengah. Pembelajaran lebih serius, lebih konsisten. Dua kali pelatihan intensif di Bandung, belajar dari pagi hingga malam. Teori, latihan soal, diskusi—hari demi hari diisi dengan kimia.

Dan hasilnya datang.

Tahun ini, sistem OSN semakin ketat. Dari provinsi, peserta harus melewati semifinal nasional. Dari ratusan peserta terbaik Indonesia, hanya 60 orang yang lolos ke final nasional. Emir termasuk di dalamnya.

Di Malang, ia berdiri sejajar dengan 60 peserta terbaik Indonesia. Persaingan makin tajam. Semua hebat. Semua siap. Dan akhirnya—medali perak berhasil ia raih. Peringkat keenam nasional.

Bagi sebagian orang, perak mungkin bukan puncak. Tapi bagi Emir, ini adalah bukti bahwa perjalanan dari “sekadar coba-coba” bisa sampai sejauh ini.

Kini langkahnya belum berhenti. Emir masuk 15 besar nasional dan melangkah ke tahap lanjutan seleksi Pelatnas. Target berikutnya jelas: menjadi salah satu dari empat delegasi Indonesia di International Chemistry Olympiad (IChO).

Rahasia keberhasilannya?
Tidak rumit. Tidak ada trik ajaib.

Belajar.
Latihan soal.
Konsisten.

Ia lebih suka belajar lewat video dan penjelasan visual, tapi tetap disiplin membaca buku. Ia percaya, yang terpenting bukan menghafal rumus—karena rumus dan tabel periodik sudah disediakan—melainkan memahami soal dan cara berpikirnya.

Menutup obrolan, Emir berpesan sederhana untuk teman-teman:

“Kalau mau ikut OSN, jangan nunggu nanti. Mulai dari sekarang. Kalau bisa, dari SMP. Karena yang konsisten sejak awal, biasanya yang paling siap di akhir.”

Semoga kisah Emir bukan hanya menginspirasi, tapi juga menyadarkan kita:
jalan besar sering dimulai dari langkah kecil yang berani dicoba.

Tag:#BelajarBersama, #BoardingSchool, #BoardingSchoolIndonesia, #CintaIlmu, #GenerasiCendekia, #ICBSPAYAKUMBUH #ICBS #insancendekia #MFQNasional #SantriICBSBerprestasi #insancendikiaboardingschool #insancendekiaboardingschoolpayakumbuh #IslamicBoardingSchool

author avatar
Admin

Admin adalah Tim Media Insan Cendekia Boarding School

Previous post

10 Hari Menuju Ramadhan
9 February, 2026

Next post

Siapa Dirimu Ketika Tak Ada Yang Melihat ?
10 February, 2026

You may also like

podcas
Dari Iseng Jadi Delegasi Nasional: Kisah Bian di Olimpiade Bahasa Arab
7 February, 2026
Insan Cendekia Boarding School
JL. RA. Kartini Padang Kaduduk Kel. Tigo Koto Diate Kec. Payakumbuh Utara – Sumatera Barat.
    (+62)811 6699 102

    info@icbs.sch.id 

LINKS

Tentang Kami
Find us
PPDB
Achievement
Alumni

FIND US

INSAN CENDEKIA BOARDING SCHOOL PAYAKUMBUH

© 2026 YAYASAN INSAN CENDEKIA  –  ICBS PAYAKUMBUH


Home

Calendar

Blog

Gallery

Address