Lima Santri SMP ICBS Melaju ke Tingkat Nasional OSN 2026

Lima santri SMP Insan Cendekia Boarding School (ICBS) berhasil melaju ke tingkat nasional pada ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2026 setelah melewati rangkaian seleksi dan pembinaan dari tingkat kabupaten/kota hingga tingkat provinsi. Kelima santri tersebut berasal dari tiga satuan pendidikan SMP ICBS dengan satu santri pada bidang IPA dan empat santri pada bidang IPS. Pada bidang IPA, Alby Pratama dari SMP IT Insan Cendekia Payakumbuh berhasil mengamankan tiket menuju tingkat nasional. Sementara pada bidang IPS, empat santri yang lolos terdiri atas Muhammad Fairuz dari SMP Insan Cendekia Harau, Yazid Al Mufid dari SMP IT Insan Cendekia Payakumbuh, Muhammad Fathan Abdillah dari SMP IT Insan Cendekia Payakumbuh, dan M. Fathan Akhtaril dari SMP Insan Cendekia Excellent Harau.
Kepala SMP ICBS, Dr. Vikri Rahmaddani, S.Sos., M.A., menyampaikan rasa syukur sekaligus apresiasi kepada seluruh pihak yang telah terlibat dalam proses pembinaan. Menurutnya, keberhasilan lima santri tersebut merupakan hasil kerja bersama antara guru, pembina, jajaran pimpinan, serta pihak-pihak yang turut mendukung persiapan OSN. “Alhamdulillah, tentunya ucapan ribuan terima kasih dan bersyukur kepada Allah SWT atas kerja keras guru-guru, pendamping dan tentunya kepada mudir, jajaran pimpinan dan semua yang sudah mendukung dalam kegiatan ini. Alhamdulillah kita mampu mengantarkan santri kita sampai ke tingkat nasional,” ungkapnya.
OSN menjadi salah satu program yang mendapat perhatian serius dari sekolah. Persiapan dilakukan sejak jauh hari dengan menyiapkan berbagai aspek, mulai dari pembelajaran, administrasi, pembinaan akademik, hingga kesiapan mental santri. Para peserta juga mendapatkan pendampingan dari guru-guru sekolah, pembina asrama, serta lembaga eksternal yang bekerja sama dengan ICBS. Proses pembinaan tersebut berlangsung cukup panjang. Para santri menjalani pembinaan secara intensif dari Senin hingga Sabtu bersama guru-guru pembina OSN ICBS, kemudian dilanjutkan dengan pembinaan bersama lembaga mitra hingga sore hari.

Guru pembina OSN, Ustadzah Dio Yoan Sabrina, M.Pd., Gr., menjelaskan bahwa pembinaan dilakukan setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 15.00 bersama guru-guru pembina OSN ICBS. Setelah itu, para santri kembali mengikuti pembinaan bersama lembaga yang telah bekerja sama dengan ICBS selepas Ashar hingga pukul 18.00. “Kalau bicara tentang proses latihan dan pembinaan, anak-anak sudah melewati berbagai prosesnya cukup panjang. Dari awal seleksi yang dimulai dari tahap sekolah sampai pelatihan pembinaan intensif. Kita lakukan pembinaan intensif di ruangan khusus setiap harinya dari hari Senin sampai Sabtu, dari jam 7 pagi sampai jam 3 sore bersama guru-guru pembina OSN ICBS, lalu dilanjutkan dengan pembinaan intensif bersama lembaga-lembaga yang sudah bekerja sama dengan ICBS,” jelasnya.
Padatnya proses pembinaan tentu tidak selalu berjalan tanpa tantangan. Rasa jenuh atau burnout menjadi salah satu hal yang dirasakan para santri ketika harus berhadapan dengan materi dan soal-soal OSN tingkat tinggi secara terus-menerus. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri, terutama pada bidang IPS yang memiliki cakupan materi cukup luas. Para pembina kemudian berusaha mencari cara agar proses belajar tetap berjalan dengan baik tanpa membuat santri kehilangan semangat. Selain belajar mandiri, santri juga diarahkan untuk belajar bersama teman-teman di kompleks masing-masing. Guru pembina pun berupaya membuat pembelajaran lebih variatif dengan menggunakan materi presentasi dan video pembelajaran interaktif.
Menurut Ustadzah Sabrina, proses tersebut sekaligus menjadi bagian dari pembentukan mental juara para santri. Mereka tidak hanya dituntut mampu menguasai materi, tetapi juga harus mampu menghadapi rasa jenuh, melakukan evaluasi, dan terus memperbaiki kemampuan. “Kalau secara umum Ana bisa melihat bahwa mental juara anak-anak itu memang sudah tertanam sejak awal. Mereka sangat kompetitif. Mereka tidak mau kalah satu sama lain, kompetitif yang sehat. Ketika mereka menjawab soal namun jawabannya salah, maka mereka akan mempertanyakan letak salahnya di mana dan berusaha untuk mengevaluasi diri secara langsung,” tuturnya.
Daya juang tersebut juga terlihat dari perkembangan beberapa santri selama mengikuti pembinaan. Ustadzah Yoan menyebutkan bahwa ada santri yang pada awal pembinaan belum memiliki penguasaan materi IPS sebaik peserta lainnya. Namun, berkat kemauan belajar dan ketekunan yang terus dijaga, santri tersebut mampu mengejar ketertinggalannya hingga akhirnya berhasil lolos ke tingkat nasional. Selain pembinaan akademik, kehidupan di lingkungan boarding school juga memberikan ruang bagi para santri untuk saling mendukung. Ustadz Vikri melihat kekompakan tersebut menjadi salah satu kekuatan yang membantu para santri melewati proses panjang menuju tingkat nasional. “Anak-anak kita satu sama lain saling belajar bersama, saling mengisi satu sama lain. Karena memang kita melihat anak-anak OSN kita ini bukan hanya mereka belajar ketika guru-guru menjelaskan di depan, namun anak kita dalam kegiatan sehari-harinya juga Alhamdulillah sangat kompak sekali,” ujarnya.
Pembinaan yang diberikan juga tidak hanya berfokus pada kemampuan akademik. Para santri tetap diarahkan untuk menjaga ibadah dan meningkatkan amalan-amalan sunnah di tengah padatnya kegiatan belajar. Bagi sekolah, persiapan menghadapi kompetisi perlu berjalan bersama dengan penguatan mental dan spiritual. Setelah berhasil lolos ke tingkat nasional, pembinaan para santri akan kembali ditingkatkan. Penguatan materi, latihan soal, pre-test, post-test, serta evaluasi akan terus dilakukan. Para santri juga akan diberikan latihan kemampuan analisis tingkat tinggi sebagai persiapan menghadapi soal-soal di tingkat nasional. Khusus tim IPS, latihan public speaking turut disiapkan sebagai langkah antisipasi apabila dalam kompetisi nantinya terdapat sesi presentasi. “Tentu perjuangan belum selesai sampai di sini. Anak-anak masih harus pembinaan lebih intens dibandingkan dengan yang sebelumnya. Penguatan materi, pre-test, post-test, dan evaluasi InsyaaAllah akan terus dilakukan. Namun ditambah dengan latihan kemampuan analisis tingkat tinggi anak-anak,” jelas Ustadzah Yoan.
Memasuki tahap nasional, Ustadzah Sabrina berpesan agar para santri tidak mengendurkan semangat belajar. Menurutnya, capaian di tingkat provinsi harus menjadi pijakan untuk bekerja lebih keras lagi pada tahap berikutnya. “Kalau sebelumnya semangat belajarnya 100%, maka kali ini harus semangat belajar 1000% all out. Tentunya dengan selalu melibatkan Allah di setiap usahanya. Dan dengan memperhatikan waktu istirahatnya juga,” pesannya.
Ustadz Vikri juga mengingatkan para santri untuk tetap rendah hati dalam menjalani proses tersebut. Baginya, capaian yang telah diraih bukan alasan untuk merasa cukup, melainkan menjadi dorongan untuk terus belajar dan memberikan kemampuan terbaik. “Terus belajar, jangan sampai jumawa. Hari ini mungkin kita kemarin di nasional sudah mungkin dapat emas, dapat perak, dan sebagainya namun semua itu ujian. Kita berharap kepada anak-anak kita tetap rendah hati, tetap konsisten, belajar yang tekun jangan sampai ada yang sombong,” ungkapnya.
Lolosnya lima santri SMP ICBS ke tingkat nasional menjadi gambaran dari proses pembinaan yang dibangun secara bertahap dan berkelanjutan. Tidak hanya mengasah kemampuan akademik, proses tersebut juga membentuk daya juang, kemandirian, kekompakan, serta kesadaran untuk tetap menjaga nilai-nilai keislaman dalam setiap perjuangan. Ikhtiar tersebut menjadi bagian dari komitmen ICBS dalam mewujudkan visi “Mewujudkan Generasi yang Cerdas, Islami, Mandiri, dan Berprestasi,” dengan menghadirkan santri yang tidak hanya mampu bersaing di bidang akademik, tetapi juga memiliki karakter dan nilai yang menjadi bekal dalam melangkah lebih jauh.
