Dari Iseng Jadi Delegasi Nasional: Kisah Bian di Olimpiade Bahasa Arab

Pagi itu terasa sedikit berbeda. Bukan karena suasananya, tapi karena untuk pertama kalinya saya berdiri bukan sebagai pendengar, melainkan sebagai host di podcast Insan Cendekia Boarding School. Jujur saja, ini pengalaman perdana. Biasanya wajah saya hanya muncul di balik layar, menonton podcast CWS yang dibawakan host-host lain. Tapi hari ini, giliran saya.
Perkenalkan, nama saya Khalif Qoyim Abdallah, santri kelas 11–12 IPCB ICBS Global Putra.
Dan di episode perdana ini, saya kedatangan tamu yang luar biasa istimewa. Seorang santri ICBS yang berhasil menjadi delegasi Sumatera Barat dalam Olimpiade Bahasa Arab tingkat nasional. Bukan hanya ikut—ia pulang membawa medali perunggu dari Jakarta. Nasional, teman-teman. Bukan main.
Namanya Atar bin Alfar, atau yang akrab dipanggil Bian.
Saat pertama kali ia bercerita, ada satu hal yang langsung membuat saya terdiam.
“Sebenarnya… dulu saya nggak suka bahasa Arab.”
Siapa sangka? Santri yang kini berdiri di panggung nasional, justru memulai langkahnya dari rasa tidak suka.
Bian mengaku, sejak kelas 7 hingga kelas 8, bahasa Arab adalah pelajaran yang ia hindari. Tapi hidup memang sering berjalan lewat jalan yang tak kita rencanakan. Suatu hari, seorang teman mengajaknya ikut Olimpiade Bahasa Arab. Iseng. Cuma coba-coba. Tidak ada target, apalagi mimpi besar.
Dari situlah semuanya dimulai.
Seleksi pertama dilakukan di tingkat sekolah. Sekitar 17–20 santri Global Putra ikut ambil bagian. Dari jumlah itu, hanya tiga orang yang lolos. Bian salah satunya.
Belum selesai. Mereka kemudian dikirim ke seleksi tingkat kompleks ICBS di Lampasi. Pesertanya lebih dari 50 orang dari berbagai kompleks. Ketat. Ramai. Menegangkan. Dan lagi-lagi, hanya tiga orang yang diambil untuk mewakili ICBS ke tingkat kabupaten.
Perjalanan berlanjut.
Latihan demi latihan dijalani. Pagi dan malam. Di gedung kaca, di rumah pimpinan, dibimbing langsung oleh pimpinan ICBS dan para ustaz. Dua minggu penuh disiplin. Dua minggu penuh kesungguhan.
Seleksi kabupaten dilakukan secara online. Nilai langsung muncul di layar setelah soal disubmit.
84.
Cukup. Aman. Lolos.
Namun dari tiga peserta, hanya dua yang berhak melaju ke tingkat provinsi. Dan Bian kembali terpilih.
Di sinilah perasaan itu mulai berubah.
Yang awalnya hanya ikut-ikutan, kini mulai serius. Mulai yakin. Mulai berani bermimpi.
Persiapan provinsi lebih berat. Pagi, siang, malam. Bahkan santri yang ikut lomba dibebaskan dari kegiatan PBM reguler demi fokus penuh. Dua minggu latihan intensif, lalu berangkat ke Padang, pusat seleksi tingkat provinsi Sumatera Barat.
Pesertanya datang dari seluruh penjuru Sumbar. Sekolah negeri, swasta, boarding school—semua berkumpul. Soal dibedakan berdasarkan kategori. Untuk boarding school, tingkat kesulitannya lebih tinggi. Karena dianggap memiliki dasar bahasa Arab yang lebih kuat.
75 soal. 90 menit.
Deg-degan? Tentu.
Nilai muncul kembali di layar.
85.
Dan hasil akhirnya benar-benar di luar dugaan.
Juara 1 tingkat Provinsi Sumatera Barat.
Dari sekian banyak peserta, hanya dua orang yang berhak melaju ke nasional. Bian salah satunya. Delegasi Sumbar. Menuju Jakarta.
Empat hari di Jakarta. Menginap di Asrama Haji Pondok Gede. Pembukaan lomba, lalu Olimpiade Bahasa Arab tingkat nasional digelar di aula besar. Peserta dari berbagai provinsi. Semua terbaik. Semua juara.
Bian kembali duduk di depan layar.
Deg-degan lagi.
Ia tidak menargetkan juara satu. Ia realistis. Ia tahu persaingan ketat. Saat pengumuman keluar dan namanya disebut sebagai peraih medali perunggu, perasaannya campur aduk.
Bukan kecewa.
Tapi syukur.
“Rasanya nggak nyangka. Dari yang awalnya cuma iseng, bisa sampai sejauh ini.”
Saat ditanya rahasia dan tips memenangkan Olimpiade Bahasa Arab, jawabannya sederhana—bahkan membumi.
“Niat, usaha, dan istiqamah.”
Tidak ada jalan pintas. Tidak ada trik instan. Hanya memperbanyak kosakata, sering mendengar, sering praktik, dan tekun belajar.
Dan mungkin, satu hal yang paling penting:
berani mencoba, meski awalnya tidak suka.
Karena kadang, mimpi terbesar kita… justru berawal dari langkah kecil yang tidak kita rencanakan.
