Hiking Kelas IX: Menanam Nilai Solidaritas dan Karakter Santri di Alam Harau

Sebagai bagian dari pembinaan akhir masa belajar santri kelas IX, Komplek ICBS Harau Putra menggelar kegiatan hiking yang dikemas bukan sekadar sebagai aktivitas fisik, melainkan ruang pembelajaran karakter, kebersamaan, dan refleksi diri. Kegiatan ini dilaksanakan di kawasan alam Harau, memanfaatkan bentang alam terbuka sebagai media pendidikan yang kontekstual dan bermakna.
Kepala Asrama Harau Putra, Ustadz Rizky Syahputra, Lc., menjelaskan bahwa kegiatan hiking ini dilatarbelakangi oleh kondisi santri kelas IX yang berada di fase akhir masa pendidikan sekaligus usia pubertas yang penuh dinamika. Menjelang kelulusan, santri dinilai sangat aktif dan membutuhkan ruang penyaluran energi yang positif. Karena itu, hiking dipilih sebagai agenda bermakna untuk mengisi waktu luang agar tidak terseret pada aktivitas yang kurang bermanfaat.

Menurutnya, tujuan utama kegiatan ini adalah menjaga agar waktu santri terisi dengan aktivitas positif, sekaligus memberikan pengalaman yang membekas sebelum mereka meninggalkan lingkungan asrama. Hiking menjadi sarana untuk menghadirkan pembelajaran di luar kelas, yang justru sering kali lebih mengena dan membentuk karakter.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan hiking dirancang sarat nilai tarbiyyah. Santri diajak melakukan tadabbur alam dengan menyusuri kawasan alam Harau, sekaligus membangun kekompakan dan rasa kekeluargaan. Di setiap pos dan titik pemberhentian, panitia menyiapkan berbagai games berbasis team building yang hanya dapat diselesaikan melalui kerja sama. Tantangan-tantangan ini sengaja dirancang untuk melatih komunikasi, solidaritas, dan rasa tanggung jawab antaranggota kelompok.
Ustadz Rizky menuturkan bahwa selama kegiatan berlangsung, antusiasme santri terlihat sangat tinggi. Mereka menjalani setiap misi dengan semangat, saling menunggu ketika ada teman yang kelelahan, dan memastikan seluruh anggota kelompok tetap utuh di setiap pos. Tidak ada yang berjalan sendiri atau meninggalkan kelompoknya. Sikap ini menjadi gambaran nyata tumbuhnya solidaritas di antara santri.

Dari sisi pembentukan mental dan karakter, hiking ini memberi dampak yang signifikan. Santri belajar mengelola waktu dengan disiplin—menentukan durasi istirahat, mengatur target menuju pos berikutnya, dan mematuhi waktu yang telah ditetapkan. Selain itu, mereka juga belajar tentang kesabaran, menerima kondisi fisik dan situasi di lapangan apa adanya, serta tetap menyelesaikan tugas dengan sikap positif.
Lebih jauh, Ustadz Rizky berharap nilai-nilai yang ditanamkan melalui kegiatan ini tidak berhenti di medan hiking. Ia menekankan agar santri kelas IX tetap menjaga jati diri mereka sebagai santri, di mana pun berada dan dalam fase kehidupan apa pun setelah kelulusan. Nilai adab, kebersamaan, kedisiplinan, dan kesadaran diri sebagai seorang santri diharapkan terus melekat dan menjadi bekal dalam melanjutkan pendidikan maupun kehidupan bermasyarakat.
Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar Insan Cendekia Boarding School dalam membina santri secara utuh—tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara emosional, kuat secara mental, dan kokoh dalam karakter. Selaras dengan visi ICBS untuk mewujudkan generasi yang cerdas, Islami, mandiri, dan berprestasi, hiking kelas IX menjadi salah satu langkah nyata dalam menyiapkan santri menghadapi fase kehidupan berikutnya dengan sikap yang lebih dewasa dan bertanggung jawab.
