Rihlah Edukatif Santri SMP ICBS ke Batusangkar, Padang Panjang, dan Bukittinggi: Belajar Sejarah, Mengenal Alam, dan Menumbuhkan Kemandirian

Suasana belajar yang berbeda dirasakan oleh santri SMP ICBS melalui kegiatan Rihlah Edukatif yang dilaksanakan ke beberapa lokasi edukasi di Batusangkar, Padang Panjang, dan Bukittinggi. Kegiatan tahunan ini menjadi bagian dari pembelajaran lapangan yang dirancang untuk memperluas wawasan santri, sekaligus menghadirkan pengalaman belajar secara langsung di luar kelas. Dalam kegiatan tersebut, santri mengunjungi sejumlah tempat, di antaranya Istana Basa Pagaruyuang di Batusangkar dan BMKG Padang Panjang, sebelum melanjutkan perjalanan ke beberapa lokasi rekreasi edukatif lainnya. Kegiatan ini diikuti dengan penuh antusias oleh para santri karena tidak hanya menghadirkan suasana baru, tetapi juga memberikan pengalaman yang berkesan.
Kepala SMP ICBS, Ustadz Tony Yuli Hendra, S.Pd.I, menjelaskan bahwa Rihlah Edukatif merupakan program rutin tahunan bagi santri kelas VII semester dua. Menurutnya, kegiatan ini dirancang sebagai bentuk sinkronisasi pembelajaran dengan mata pelajaran yang dipelajari di sekolah, khususnya IPS dan IPA. “Santri tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga melihat langsung bagaimana sejarah dan fenomena alam itu dipelajari di lapangan. Dengan begitu, mereka memiliki pemahaman yang lebih nyata tentang sejarah, budaya, dan alam,” jelasnya. Rangkaian kegiatan dimulai dari keberangkatan santri dari pondok menuju Istana Basa Pagaruyuang di Batusangkar, dilanjutkan ke BMKG Padang Panjang, kemudian beberapa lokasi rekreasi seperti Mifan Padang Panjang, makan malam bersama di Bukittinggi, hingga kunjungan ke kawasan Jam Gadang sebelum kembali ke pondok. Melalui kegiatan ini, sekolah ingin menanamkan banyak nilai kepada santri, mulai dari kemandirian, kepedulian terhadap lingkungan, hingga kemampuan bersosialisasi dan bekerja sama. Menurut Ustadz Tony, pembelajaran lapangan seperti ini juga melatih santri untuk mampu mengatur diri, berinteraksi dengan masyarakat luar, serta belajar memahami kehidupan secara lebih luas.

Salah seorang santri peserta rihlah, Abelda Cheryl Avina yang berasal dari Kota Bukittinggi, mengaku sangat menikmati perjalanan tersebut. Ia menyebut bahwa kegiatan ini terasa seru karena selain menyenangkan, juga menambah ilmu dan wawasan baru. Baginya, lokasi yang paling berkesan adalah Istana Basa Pagaruyuang. Ia merasa banyak mendapatkan pelajaran sejarah tentang kehidupan masyarakat Minangkabau terdahulu, termasuk mengenal kebiasaan dan nilai-nilai yang diwariskan oleh para Bundo Kanduang. Selain itu, kunjungan ke BMKG juga memberikan pengalaman baru baginya. Ia mengaku menjadi lebih memahami tentang bencana alam, alat-alat pengukur gempa, serta langkah-langkah yang perlu dilakukan ketika terjadi gempa bumi.
Tidak hanya belajar, kebersamaan selama perjalanan juga menjadi bagian yang paling membekas bagi para santri. Momen bermain bersama teman-teman, berenang, hingga mengeksplor tempat-tempat yang dikunjungi membuat suasana rihlah terasa hangat dan penuh kebersamaan. Di balik keseruan tersebut, Abelda juga merasa mendapatkan pelajaran penting untuk dirinya sendiri. Ia mengaku ingin menjadi pribadi yang lebih disiplin dalam memanfaatkan waktu serta lebih baik dalam mematuhi arahan dan aturan. Ustadz Tony menambahkan bahwa antusiasme santri selama kegiatan berlangsung sangat tinggi. Santri mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan semangat dan aktif dalam setiap pembelajaran lapangan yang dilakukan.
Melalui Rihlah Edukatif ini, Insan Cendekia Boarding School terus berupaya menghadirkan proses pendidikan yang tidak hanya berfokus pada akademik di ruang kelas, tetapi juga pembentukan karakter, pengalaman, dan wawasan santri melalui pembelajaran nyata di lapangan. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya ICBS dalam mewujudkan generasi yang cerdas, Islami, mandiri, dan berprestasi.
