Santriwati ICBS Harau Raih Juara 1 Essay Nasional, Bukti Kuatnya Literasi dan Daya Pikir Santri

Harau — Kabar membanggakan kembali datang dari Insan Cendekia Boarding School (ICBS). Salah satu santriwati SMP Insan Cendekia Excellent Harau, Wafa Thahira Haryadi, berhasil meraih Juara 1 Lomba Menulis Essay Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh MAN Insan Cendekia Serpong. Prestasi ini menjadi bukti bahwa santri ICBS mampu bersaing di level nasional melalui kemampuan literasi, pemikiran kritis, dan keberanian dalam menyampaikan gagasan. Bagi Wafa, kemenangan ini tidak datang dengan mudah. Ia mengaku sempat merasa tidak percaya diri sejak awal, terlebih dirinya menjadi satu-satunya peserta dari Sumatera dalam ajang tersebut. Bahkan, ia sempat berpikir bahwa peluang untuk menang sangat kecil. Namun di balik keraguan itu, tersimpan tekad yang kuat untuk tetap mencoba dan membuktikan kemampuan diri. Hingga akhirnya, hasil yang diraih justru melampaui ekspektasi.
Menariknya, lomba essay ini merupakan pengalaman pertama bagi Wafa. Selama ini, ia lebih dikenal aktif dalam menulis cerpen. Proses berpindah dari cerpen ke essay menjadi tantangan tersendiri, terutama dalam menyusun gagasan secara sistematis dan menggabungkan berbagai ide ke dalam satu tulisan yang utuh. Ia mengaku bahwa proses editing dan penyusunan paragraf menjadi bagian paling menantang selama penulisan. Dalam lomba tersebut, Wafa mengangkat dua tema besar yang relevan dengan kondisi saat ini, yaitu peran generasi muda dalam pemerataan pendidikan di Indonesia serta aksi generasi Z dalam menghadapi permasalahan lingkungan, khususnya isu mikroplastik dan perubahan iklim. Tema tersebut menunjukkan kedalaman berpikir serta kepedulian terhadap isu-isu sosial yang sedang berkembang.
Perjalanan Wafa menuju juara juga tidak terlepas dari berbagai tantangan. Ia harus menghadapi keterbatasan waktu, menjaga mood dalam menulis, hingga mengatasi writer’s block saat memasuki tahap final. Di tengah tekanan tersebut, ia juga harus tampil secara individu, sementara peserta lain datang dalam tim. Meski sempat merasa gugup, Wafa mampu mengelola tekanan tersebut dan menyelesaikan proses dengan baik.
Di balik keberhasilan ini, peran ICBS dan para pembimbing menjadi faktor penting yang tidak terpisahkan. Wafa mengakui bahwa ia sempat hampir menyerah dan tidak melanjutkan lomba. Namun berkat dukungan dari ustadzah pembimbing, pembina asrama, serta teman-teman, ia kembali termotivasi untuk melanjutkan hingga akhirnya meraih juara.
Ustadzah Widya Mustika, S.Pd., Gr., selaku pembimbing Wafa, menjelaskan bahwa ketertarikan Wafa terhadap dunia menulis memang sudah terlihat sejak awal. Ia aktif mengikuti berbagai lomba dan memiliki keberanian untuk mencoba hal baru, termasuk dalam menulis essay meskipun belum memiliki pengalaman sebelumnya. Proses pembinaan dilakukan secara intensif, mulai dari pendalaman materi penulisan essay, diskusi dengan guru Bahasa Indonesia, hingga latihan presentasi untuk tahap final. Menurutnya, keunggulan Wafa terletak pada kemampuannya menyampaikan opini yang kritis sekaligus solutif. Ia tidak hanya mampu mengangkat permasalahan, tetapi juga menghadirkan sudut pandang yang relevan dengan generasinya. Tulisan yang dihasilkan tidak hanya informatif, tetapi juga mengajak pembaca untuk lebih peduli terhadap isu yang diangkat.
Lebih jauh, capaian ini juga mencerminkan peran ICBS sebagai lembaga yang memberikan ruang luas bagi pengembangan literasi dan pemikiran kritis santri. Dukungan yang diberikan tidak hanya berupa fasilitas belajar, tetapi juga lingkungan yang mendorong santri untuk terus berkarya dan berprestasi. Kehadiran guru pendamping yang kompeten serta budaya belajar yang kuat menjadi fondasi penting dalam melahirkan santri berprestasi di berbagai bidang. Prestasi ini diharapkan menjadi awal dari langkah-langkah besar Wafa ke depan, sekaligus menjadi inspirasi bagi santri lainnya. Bahwa menulis bukan sekadar aktivitas, tetapi juga jalan untuk menyampaikan gagasan, mempengaruhi perubahan, dan berkontribusi bagi masyarakat.
Melalui capaian ini, ICBS kembali menegaskan komitmennya dalam membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki daya pikir kritis, kepedulian sosial, dan keberanian untuk tampil di tingkat nasional. Dari Harau, lahir suara-suara muda yang siap membawa perubahan melalui tulisan.
