Santri ICBS Raih Juara I Video Pendek Pesantren Ramah Anak Tingkat Sumatera Barat

Payakumbuh – Prestasi kembali ditorehkan santri Insan Cendekia Boarding School (ICBS) Payakumbuh. Tim santri ICBS berhasil meraih Juara I Lomba Video Pendek Santri se-Sumatera Barat pada kategori Video Pendek Pesantren Ramah Anak yang diselenggarakan oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat. Karya yang mengantarkan santri ICBS meraih prestasi tersebut berjudul “Surat Dari Indonesia 2081”. Penghargaan itu secara resmi diberikan melalui piagam penghargaan Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat pada 17 Agustus 2026. Tujuh santri terlibat dalam proses produksi film tersebut, terdiri dari santri jenjang SMP-IT dan SMA-IT ICBS Payakumbuh. Mereka adalah Muhammad Rafif Rizal, Saldino Misral, Hafiz Humaidi, Ahmad Muzayyan Hadaya Ardi, M. Agha Aufa Nabil, Muhammad Aqil, dan Aulia Einsten Syafrian Siregar.

Kepala SMP ICBS, Ustadz Dr. Vikri Rahmaddani, S.Sos., M.A., menyampaikan rasa syukur atas capaian tersebut. Menurutnya, keberhasilan itu tidak terlepas dari kerja sama tim serta dukungan berbagai pihak di lingkungan ICBS. “Alhamdulillah, tentunya kita bersyukur atas apa yang sudah dicapai anak-anak kita. Dengan persiapan yang cukup mepet, melalui kerja sama satu sama lain, Alhamdulillah anak-anak mampu dan siap dengan karyanya dan mendapatkan hasil yang terbaik,” ungkapnya. Lebih dari sekadar mengikuti perlombaan, Ustadz Vikri melihat proses tersebut sebagai bagian dari upaya ICBS memberikan ruang kepada santri untuk mengembangkan potensi di luar pembelajaran akademik dan kepesantrenan. ICBS, jelasnya, terus memberikan pembinaan kepada santri dalam berbagai bidang kreatif, termasuk videografi dan fotografi. Karena itu, keterlibatan dalam lomba video menjadi kesempatan bagi para santri untuk mengaplikasikan kemampuan yang selama ini mereka pelajari. “Santri-santri kita bukan hanya kita ajarkan untuk belajar di kelas atau mengikuti kegiatan kepesantrenan saja. Kita juga menyiapkan mereka untuk bisa berprestasi, baik di bidang literasi, film, dan lain sebagainya,” jelasnya.
Dalam produksi “Surat Dari Indonesia 2081”, para santri terlibat secara langsung mulai dari penyusunan konsep, pengambilan gambar, pengarahan adegan hingga proses penyuntingan video. Sebelum karya tersebut dikirimkan, hasil akhirnya juga melalui proses peninjauan dari pembina yang mendampingi mereka. Bagi Saldino Misral, salah seorang santri yang terlibat, keberhasilan tersebut menjadi kejutan tersendiri. Ia mengaku tidak terlalu menyangka karya mereka mampu menjadi yang terbaik dalam kompetisi yang diikuti pesantren-pesantren se-Sumatera Barat. “Yang pertama sekali saya tentu merasa sangat senang karena kami tidak terlalu menyangka bahwa film ini bisa meraih Juara I, apalagi lomba tersebut diadakan untuk seluruh pesantren di Sumatera Barat oleh Kemenag Sumatera Barat,” tutur Saldino. Proses pembuatan film dimulai dengan pencarian ide. Setelah melakukan riset dan berdiskusi, tim akhirnya memilih konsep “Surat Dari Indonesia 2081”. Pengambilan gambar kemudian dilakukan secara bertahap karena waktu produksi yang terbatas. Setelah sebagian besar adegan selesai direkam, tim menemukan masih ada beberapa bagian yang perlu dilengkapi. Mereka pun kembali melakukan pengambilan gambar sebelum melanjutkan proses editing hingga mendekati batas akhir pengumpulan.
Bagi Saldino, proses tersebut menjadi pengalaman yang berharga karena setiap anggota tim harus saling bekerja sama dan menyelesaikan tanggung jawab masing-masing dalam waktu yang terbatas. Salah satu tantangan bahkan muncul ketika salah seorang pemeran harus pulang karena keperluan penting, sehingga tim harus mencari pemeran pengganti dalam waktu singkat. “Di saat mendesak itu kami terpaksa mencari cast pengganti dalam waktu satu jam, sedangkan kami sudah berencana menyelesaikan shooting dalam dua jam lagi,” ceritanya. Di balik cerita yang dibangun dalam film tersebut, Saldino menjelaskan bahwa pesan utama yang ingin disampaikan adalah mengenai pesantren sebagai lingkungan yang aman dan nyaman bagi santri. Dengan begitu, orang tua dapat merasa yakin bahwa anak-anak mereka berada dalam lingkungan pendidikan yang memberikan rasa aman selama menjalani kehidupan di pesantren.
Prestasi ini sekaligus menjadi pengalaman penting bagi para santri untuk mengembangkan kemampuan mereka dalam produksi karya audiovisual. Bagi Saldino sendiri, capaian tersebut bukanlah akhir dari proses belajar. “Ananda yakin bahwa prestasi ini adalah titik awal untuk meraih prestasi-prestasi ke depannya. Karena itu, saya akan terus belajar mendalami hal-hal yang berhubungan dengan film,” ujarnya. Ustadz Vikri pun berharap capaian ini tidak membuat para santri berhenti belajar. Sebaliknya, prestasi tersebut diharapkan menjadi pijakan untuk terus meningkatkan kemampuan dan berani mengambil tantangan pada kompetisi yang lebih tinggi. “Kita berharap tidak hanya sampai di sini. Kalau hari ini kita sudah mendapatkan Juara I, tentu pada event-event selanjutnya kita harus lebih bagus lagi, lebih meningkat lagi. Semoga santri-santri kita mampu bersaing di tingkat nasional, bahkan sampai internasional,” harapnya. Menurutnya, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan di ICBS memberikan ruang bagi santri untuk berkembang secara lebih luas. Selain pembelajaran agama dan akademik, santri juga didorong untuk mengasah kreativitas, keterampilan teknologi, komunikasi, serta berbagai potensi lainnya.
Capaian melalui film “Surat Dari Indonesia 2081” menjadi salah satu gambaran bahwa santri dapat tumbuh dengan beragam kemampuan ketika mendapatkan ruang untuk belajar, berkarya, dan berkompetisi. Semangat tersebut sejalan dengan komitmen ICBS dalam mewujudkan generasi yang cerdas, Islami, mandiri, dan berprestasi, dengan memberikan bekal yang tidak hanya relevan untuk kehidupan di pesantren, tetapi juga untuk menghadapi tantangan di masa depan.

