• Home
  • About us
  • SMP
  • SMA
    • Alumni
  • Rekrutmen
  • Prestasi
    • Profil Guru Berprestasi
    • Profil Siswa Berprestasi
    • Kolom Guru
  • Contact us
  • PPDB
  • Pustaka
  • News
    • Galery
    • Tabloid
ICBS
  • Home
  • About us
  • SMP
  • SMA
    • Alumni
  • Rekrutmen
  • Prestasi
    • Profil Guru Berprestasi
    • Profil Siswa Berprestasi
    • Kolom Guru
  • Contact us
  • PPDB
  • Pustaka
  • News
    • Galery
    • Tabloid

Kolom Guru

Home » Siapa Dirimu Ketika Tak Ada Yang Melihat ?

Siapa Dirimu Ketika Tak Ada Yang Melihat ?

  • Posted by Habib Hidayatullah, B.Sh
  • Date 10 February, 2026

Setiap dari kita pernah mendengar sebuah lagu, lalu merasa bahwa lagu itu begitu mewakili perasaan dan apa yang kita pikirkan—seolah-olah ia diciptakan khusus untuk diri kita sendiri. Di dalamnya, kebahagiaan, kesedihan, bahkan lamunan yang tak terucapkan menemukan bentuknya. Seperti cermin, ia tidak memberi jawaban, tetapi memantulkan apa yang selama ini tersimpan di dalam diri.

Para sahabat Nabi pun pernah merasakan hal serupa. Sudah tentu bukan melalui musik, melainkan melalui Al-Qur’an yang begitu membekas di hati orang-orang mulia itu. Salah satunya adalah Hanzalah. Ketika mendengar ayat-ayat tentang kemunafikan, ia tidak menunjuk jari kepada orang lain. Justru sebaliknya, hatinya bergetar dan kegelisahan pun muncul: jangan-jangan akulah orang yang disebut munafik itu.

Berbicara tentang lagu dan kemunafikan—atau dalam bahasa yang lebih sederhana, tentang kepalsuan—sebuah judul lagu lama kerap terlintas di kepala kita: Panggung Sandiwara. Liriknya menggambarkan bagaimana sepanjang umur terbentang, seolah kita hanya memainkan peran dalam sebuah pementasan akbar yang bernama kehidupan.

Namun, bagaimana jika seluruh ruang telah gelap, tirai panggung ditutup, dan kursi penonton benar-benar kosong? Tetapkah kita akan bersandiwara?

Selama ini, tanpa sadar, kita telah menciptakan suatu versi diri: versi yang dapat diterima dan aman untuk ditampilkan. Ia membantu kita bertahan, bergaul, dan menjalani peran. Namun seiring waktu, versi itu bisa menjauh dari kejujuran.

Dalam kehidupan sehari-hari, ketidakjujuran sering berawal dari hal-hal kecil yang nyaris tak terasa. Kompromi-kompromi sepele yang berulang perlahan membentuk jarak dari kenyataan. Bukan karena hati yang sungguh tergerak, melainkan karena peran menuntut kita melakukan sesuatu yang tampak sebagai “kebaikan”. Walau perbuatannya sama, arah batinnya telah bergeser. Di titik inilah jarak antara diri yang ditampilkan dan diri yang sebenarnya kian melebar.

apakah kita akan terus bersandiwara?

Di tengah kehidupan yang nyaris tak terlepas dari rutinitas, barangkali kita perlu berhenti sejenak. Mawas diri, dan bertanya dengan jujur: untuk apa semua ini dijalani? Disyariatkannya niat dalam ibadah maupun muamalah adalah hikmah besar yang patut kita renungi.

Para ulama mengingatkan bahwa niat mampu mengubah sesuatu yang tampak biasa menjadi bernilai di sisi Allah. Pekerjaan yang berat, jika diniatkan untuk berdikari dan menghidupi keluarga karena Allah, bernilai pahala yang besar. Bahkan tidur—yang sering dianggap sebagai aktivitas tanpa makna—dapat bernilai ibadah jika diniatkan agar tubuh kembali segar untuk melanjutkan usaha mencari rida-Nya.

Iya, tak perlu lagi bersandiwara, tapi kita perlu sadar ada Allah yang mengawasi kita.

‎إن اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَىٰ صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَىٰ قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

‏“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.”

Hadis Nabi yang mulia ini bukan menyarankan bahwa kita tak perlu peduli pada penampilan atau berhenti berusaha. Ia justru mengarahkan perhatian kita pada sesuatu yang lebih dalam. Bahwa di balik segala yang tampak, ada dimensi batin yang tidak pernah terpisah dari perbuatan. Allah sedekat itu dengan diri kita—cukup dekat untuk mengetahui apa yang terlintas, apa yang disembunyikan, dan apa yang sungguh diniatkan.

Kedekatan ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk meluruskan arah. Ia mengingatkan bahwa usaha lahir tanpa kejujuran batin mudah kehilangan makna, sementara niat yang lurus menuntut perwujudan yang nyata. Dengan demikian, yang lahir dan yang batin tidak saling meniadakan; keduanya saling menegaskan.

Di titik ini, kita tidak diminta untuk menjauh dari kehidupan. Kita hanya diajak untuk berhenti bersandiwara— Ketika peran dijalani dengan kehadiran hati, rutinitas pun kembali menemukan nilainya: bukan di hadapan penilaian manusia, melainkan dalam kesadaran bahwa setiap gerak hidup berlangsung di hadapan Yang Maha Mengetahui.

Tag:#BelajarBersama, #BoardingSchool, #BoardingSchoolIndonesia, #CintaIlmu, #GenerasiCendekia, #ICBSPAYAKUMBUH #ICBS #insancendekia #MFQNasional #SantriICBSBerprestasi #insancendikiaboardingschool #insancendekiaboardingschoolpayakumbuh #IslamicBoardingSchool

author avatar
Habib Hidayatullah, B.Sh

Guru Program Timur Tengah SMA ICBS Payakumbuh

Previous post

Perjalanan Menuju Medali Perak: Cerita Emir dan OSN Kimia
10 February, 2026

Next post

Setetes Darah Menyambut Ramadan: ICBS Bersama Klinik Andalusia Tebar Kepedulian
14 February, 2026

You may also like

penyesalan
PENYESALAN
28 March, 2025
kampung (Custom)
Memaksimalkan Ibadah Puasa: Tiga Ibadah di Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan yang Berkala
22 March, 2025
guru
Training Bersama PPA Institute: Bekerja Bahagia dengan Cinta dan Harmoni
21 March, 2025
Insan Cendekia Boarding School
JL. RA. Kartini Padang Kaduduk Kel. Tigo Koto Diate Kec. Payakumbuh Utara – Sumatera Barat.
    (+62)811 6699 102

    info@icbs.sch.id 

LINKS

Tentang Kami
Find us
PPDB
Achievement
Alumni

FIND US

INSAN CENDEKIA BOARDING SCHOOL PAYAKUMBUH

© 2026 YAYASAN INSAN CENDEKIA  –  ICBS PAYAKUMBUH


Home

Calendar

Blog

Gallery

Address