• Home
  • About us
  • SMP
  • SMA
    • Alumni
  • Rekrutmen
  • Prestasi
    • Profil Guru Berprestasi
    • Profil Siswa Berprestasi
    • Kolom Guru
  • Contact us
  • Pustaka
  • PPDB
  • News
    • Galery
    • Tabloid
ICBS
  • Home
  • About us
  • SMP
  • SMA
    • Alumni
  • Rekrutmen
  • Prestasi
    • Profil Guru Berprestasi
    • Profil Siswa Berprestasi
    • Kolom Guru
  • Contact us
  • Pustaka
  • PPDB
  • News
    • Galery
    • Tabloid

Kolom Guru

Home » Guru Bukan Hanya Transfer Ilmu, Tetapi Juga Menjadi Fasilitator Perkembangan Unik Setiap Murid

Guru Bukan Hanya Transfer Ilmu, Tetapi Juga Menjadi Fasilitator Perkembangan Unik Setiap Murid

  • Posted by Isworo Setyo Nugroho, S.Pd
  • Date 2 February, 2024

Pendidikan merupakan landasan penting bagi pertumbuhan dan perkembangan setiap individu.  Khususnya dalam dunia pendidikan yang penuh keberagaman ini, setiap murid membawa potensi dan  keunikannya masing-masing. Mereka memiliki gaya belajar, kemampuan dan minat yang berbeda-beda sehingga guru bertanggung jawab bukan hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga menjadi fasilitator yang adil dan merangkul setiap keunikan yang dimiliki oleh murid-murid kita. Pernyataan ini menggambarkan pentingnya peran pendidikan dalam membentuk dan mengembangkan kecerdasan dan  karakter setiap individu. Dengan menyadari bahwa setiap murid memiliki keunikan dan potensi yang  berbeda, pendidikan menjadi sarana untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan mereka sesuai  dengan kebutuhan dan karakteristik individu.

Sebagai guru, seorang guru tentu harus memiliki pemahaman yang mendalam terhadap gaya  belajar, kemampuan dan minat masing-masing murid yang sangat krusial. Dengan demikian, guru dapat  menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan mendukung perkembangan holistik setiap murid.  Memiliki sikap yang adil dan menerima keberagaman sebagai kekayaan merupakan langkah awal untuk  menciptakan ruang kelas yang memotivasi dan memungkinkan setiap murid mencapai potensinya.

Sebagai fasilitator, seorang guru juga memiliki peran untuk memberikan inspirasi, bimbingan,  dan dukungan kepada murid-muridnya. Pendidikan bukan hanya tentang transfer pengetahuan, tetapi  juga tentang proses pembentukan karakter, membantu murid menemukan passion mereka dan  mengajarkan keterampilan hidup yang diperlukan di luar ruang kelas.

Dengan memahami dan menghargai keunikan setiap murid, guru dapat membantu menciptakan  lingkungan belajar yang positif, inklusif, dan berorientasi pada pertumbuhan. Dalam hal ini, peran guru  bukan hanya sebagai pemberi informasi, tetapi juga sebagai pembimbing dan motivator yang membantu  setiap murid mencapai potensi maksimalnya. Setiap ruang kelas merupakan panggung pertunjukan  keberagaman. Ada murid yang menangkap konsep materi pelajaran dengan hapalan, ada yang terampil  dalam mencatat, dan ada pula yang merespons melalui pendekatan audio. Keberagaman ini menjadi  kekayaan yang sangat istimewa yang harus dihargai, bukan alasan untuk memilih-milih dalam  memberikan bantuan pendidikan.

Kemampuan dan minat murid pun beragam. Seorang murid mungkin mahir dalam matematika,  sementara murid yang lain bersinar dalam seni budaya ataupun olahraga. Gardner dalam bukunya  Jasmine mengenalkan Teori kecerdasan majemuk yang menyatakan bahwa kecerdasan meliputi  delapan kecerdasan. Yaitu linguistik, matematis, visual, musikal, kinestetik, interpersonal,  intrapersonal, dan naturalis. Teori tersebut didasarkan pada pemikiran bahwa kemampuan intelektual  yang diukur melalui tes IQ sangatlah terbatas, karena tes IQ hanya menekan pada kemampuan logika  (matematika) dan bahasa. Padahal setiap orang mempunyai cara yang unik untuk menyelesaikan  persoalan yang dihadapinya. Kecerdasan bukan hanya dilihat dari nilai yang diperoleh seseorang.

Kecerdasan merupakan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk melihat suatu masalah, lalu  menyelesaikan masalah tersebut atau membuat sesuatu yang dapat berguna bagi orang lain sangat penting bagi guru untuk tidak memberi label pada murid hanya berdasarkan satu aspek  kehidupan mereka, misalkan karena mereka nakal dan tidak semangat dalam satu mata pelajaran,  mereka disebut pemalas. Kemudian dengan murid yang rajin dan aktif di setiap pertemuan dipandang sebagai anak yang cerdas yang dapat dibanggakan. Padahal setiap individu itu memiliki kekuatan dan  kelemahannya masing-masing, dan tugas guru adalah membantu mereka menggali potensi mereka.

Yohanes Surya, merupakan sosok penggagas Asian Science and Mathematics Olympiad for Primary  School (ASMOPS) sekaligus pendiri Surya Institute. Telah membuktikan bahwa tidak ada manusia  yang terlahir dengan kebodohan, beliau mengambil dan melatih anak-anak di pedalaman Papua yang  diklaim tidak mampu bersaing serta memiliki daya tangkap yang rendah. Namun siapa sangka ternyata  anak-anak tersebut mampu membuktikan dan mendapatkan hasil yang sangat mengagumkan. Di antara  anak-anak peraih medali emas adalah Kristian Murib (Wamena), Merlin Kogoya (Tolikara), Kohoin  Marandey (Sorong Selatan), dan Ayu Rogi (Waropen). Jadi tidak ada istilah “bodoh” dalam kamus  pendidikan kita. Setiap murid memiliki waktu yang berbeda untuk memahami suatu materi, dan ini  bukan tanda kebodohan. Guru harus bersikap bijak dan sabar, memberikan bantuan tambahan kepada  mereka yang membutuhkannya tanpa mengecualikan atau memberikan perlakuan diskriminatif. Perlakuan adil bukan hanya hak setiap murid, tetapi juga harus menjadi prinsip dasar dalam  membentuk masyarakat yang inklusif. Guru yang bijak akan fokus pada kekuatan murid, membimbing  mereka melewati rintangan, dan memberikan dukungan tambahan jika diperlukan. Pendidikan bukan  hanya sekadar transfer pengetahuan tapi merupakan kesempatan pembentukan karakter dan pembukaan  pintu menuju potensi tersembunyi. Guru memiliki peran kunci dalam menciptakan lingkungan  pembelajaran yang sesuai dengan keberagaman gaya belajar dan kemampuan murid. Dengan  memahami keunikannya, kita dapat membuka pintu bagi setiap murid untuk tumbuh dan berkembang  sesuai dengan potensi maksimalnya.

Sebagai pendidik, mari kita bersama-sama menghargai keberagaman dalam kelas kita. Mari  kita menjadi fasilitator yang adil, membimbing setiap murid dengan penuh kasih dan kesabaran. Dalam  keragaman inilah yang akan menjadi kekuatan dalam pembangunan pendidikan kita, menciptakan  generasi yang siap menghadapi dunia dengan keyakinan diri dan pemahaman mendalam akan  keunikannya sendiri serta keunikannya orang lain.

Referensi

Jurnal pendidikan http://repository.uinsu.ac.id/1114/5/

https://intisari.grid.id/read/032914822/sanggup-bawa-bocah-bocah-pedalaman-papua-borong-medali di-olimpiade-sains-internasional-inilah-kisah-yohanes-surya-profesor-yang-buktikan-bahwa tidak-ada-anak-y?page=all

Tag:#insancendekiaboardingschool, fasilitator, guru, ICBS, murid, prestasi

  • Share:
author avatar
Isworo Setyo Nugroho, S.Pd

Isworo Setyo Nugroho, S.Pd. adalah seorang Guru bidang studi Informatika SMA IT ICBS , Lulusan Universitas Negeri Padang Program studi pendidikan Teknik Informatika, memiliki hoby membaca, menulis dan mendaki gunung
dengan keahlian rekayasa perangkat lunak dan pemograman

Previous post

Mading sebagai Wadah dalam Meningkatkan Kreativitas dan Literasi Siswa
2 February, 2024

Next post

Tumbuhkan kepercayaan Diri, Demi Mengukir Berbagai Prestasi
3 February, 2024

You may also like

penyesalan
PENYESALAN
28 March, 2025
kampung (Custom)
Memaksimalkan Ibadah Puasa: Tiga Ibadah di Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan yang Berkala
22 March, 2025
guru
Training Bersama PPA Institute: Bekerja Bahagia dengan Cinta dan Harmoni
21 March, 2025
Insan Cendekia Boarding School
JL. RA. Kartini Padang Kaduduk Kel. Tigo Koto Diate Kec. Payakumbuh Utara – Sumatera Barat.
    (+62)811 6699 102

    info@icbs.sch.id 

LINKS

Tentang Kami
Find us
PPDB
Achievement
Alumni

FIND US

INSAN CENDEKIA BOARDING SCHOOL PAYAKUMBUH

© 2026 YAYASAN INSAN CENDEKIA  –  ICBS PAYAKUMBUH


Home

Calendar

Blog

Gallery

Address