Membekali Santri dengan Kesadaran Umat dan Bangsa: Daurah Siyasah wa Tsaqafah dalam Diklat Kepesantrenan ICBS

Diklat dan sertifikasi skill kepesantrenan yang digelar di Insan Cendekia Boarding School bukan sekadar pelatihan teknis ibadah. Lebih dari itu, kegiatan ini dirancang sebagai ruang pembentukan cara berpikir dan kesadaran santri dalam memandang peran dirinya di tengah masyarakat. Salah satu materi yang menjadi penopang penting dalam tujuan tersebut adalah Daurah Siyasah wa Tsaqafah, yang dibawakan oleh Ustadz Habib Hidayatullah, B.Sh., pengajar kelas TIMTENG.
Ustadz Habib menegaskan bahwa pemahaman tentang siyasah dalam materi ini tidak dimaknai sebagai politik praktis. Siyasah yang dimaksud adalah bagaimana santri diajarkan untuk bergerak secara berjamaah, teratur, dan terarah, dengan tetap bernafaskan nilai-nilai keislaman dan ilmu pengetahuan. Ia mengaitkan hal ini dengan pesan Al-Qur’an dalam Surah Ash-Shaff, bahwa Allah mencintai hamba-Nya yang berjuang di jalan-Nya secara berbaris rapi seperti bangunan yang kokoh. Dari ayat inilah, menurutnya, lahir intisari penting tentang gerak bersama yang terorganisir dan bernilai ibadah.

Dalam penyampaian materinya, siyasah selalu disandingkan dengan tsaqafah. Tujuannya agar santri tidak hanya mampu bergerak secara kolektif, tetapi juga memiliki bekal pemahaman dan wawasan pribadi yang kuat. Dari sinilah diharapkan tumbuh dua kesadaran sekaligus, yakni kesadaran individual untuk terus meningkatkan tsaqafah diri, serta kesadaran komunal untuk ikut memperbaiki dan memberi dampak positif bagi lingkungan sekitarnya. Inilah titik tekan penting dari materi yang disampaikan.
Lebih jauh, Ustadz Habib menjelaskan bahwa fokus utama Daurah Siyasah wa Tsaqafah adalah membentuk santri yang mandiri dalam berpikir, percaya pada setiap tindakan yang ia ambil, namun tidak berhenti pada kepentingan diri sendiri. Keresahan yang dirasakan tidak disimpan sendiri, melainkan dibagi dan dikembangkan menjadi visi bersama. Dengan begitu, dinamika saling mempengaruhi dalam kehidupan sosial dapat diarahkan untuk kemaslahatan umat. Nilai-nilai keislaman dan kebangsaan pun ditanamkan agar santri menyadari posisinya sebagai kader umat sekaligus kader bangsa.
Antusiasme santri selama mengikuti materi ini juga menjadi catatan tersendiri. Menurut Ustadz Habib, pembahasan yang disampaikan sangat dekat dengan realitas yang akan dihadapi santri setelah tamat dari pesantren. Di manapun mereka melanjutkan proses, baik di perguruan tinggi, instansi, maupun dunia kedinasan, mereka tidak akan terlepas dari fenomena sosial yang menyentuh kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, materi ini dibangun dengan pendekatan diskusi dan brainstorming, mengajak santri berpikir tentang sikap yang harus diambil ketika berhadapan dengan persoalan nyata, agar mereka tidak tumbuh menjadi pribadi yang apatis terhadap lingkungan.
Materi Daurah Siyasah wa Tsaqafah juga diposisikan sebagai orientasi awal kehidupan santri pasca pesantren. Tidak semua santri harus tampil sebagai tokoh di tengah masyarakat, namun dimanapun mereka berada, selalu ada wadah dan ruang kolaborasi yang bisa diisi. Jaringan alumni dan komunitas yang telah ada di berbagai daerah menjadi contoh nyata bagaimana santri dapat mengembangkan tsaqafah dan kesadaran berjamaah secara berkelanjutan. Dalam konteks ini, pesantren diibaratkan tidak memberikan ikan, melainkan pancing, agar santri memahami rambu-rambu dalam berproses di jenjang pendidikan dan kehidupan berikutnya.
Harapan besar dari diklat ini adalah agar santri tidak mengalami gegar budaya ketika terjun ke masyarakat. Dengan bekal pemahaman yang diperoleh, santri diharapkan lebih siap bersikap, mampu memimpin ketika diberi amanah, dan mampu menjalankan tanggung jawab ketika berada dalam posisi yang dipimpin. Kesadaran bahwa mereka adalah bagian dari ekosistem komunal menjadi landasan agar santri ICBS tetap berkontribusi secara positif, wherever they are, tanpa kehilangan jati diri kepesantrenannya.
Melalui Daurah Siyasah wa Tsaqafah, ICBS menegaskan bahwa pendidikan pesantren bukan hanya soal kecakapan ibadah, tetapi juga tentang membentuk santri yang matang secara pemikiran, kuat secara nilai, dan siap berkhidmat untuk umat dan bangsa—sejalan dengan visi ICBS dalam melahirkan generasi yang cerdas, Islami, mandiri, dan berprestasi.
