Santri ICBS Tembus Podium OBA Provinsi, Tiga Wakili Sumatera Barat ke Tingkat Nasional

Ajang Olimpiade Bahasa Arab (OBA) tingkat Provinsi Sumatera Barat menjadi salah satu panggung bagi santri ICBS untuk menunjukkan kemampuan mereka dalam penguasaan Bahasa Arab. Dari sejumlah kategori yang diikuti, santri ICBS berhasil membawa pulang beberapa penghargaan sekaligus memastikan tiga nama melanjutkan langkah ke tingkat nasional. Pada kategori SMP, Raisah Airinanda Simamora berhasil meraih Juara 2, sementara Farah Amalia memperoleh Harapan 2. Di kategori SMA, Zhafarani Farzana Andriel tampil sebagai Juara 1 dan Annisa Hanifah Aulia meraih Juara 3. Sementara itu, Righab Ghifari Harahap meraih Harapan 3 pada kategori MA.
Tidak berhenti pada capaian tersebut, tiga santri ICBS juga berhasil mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan perjuangan ke tingkat nasional. Mereka adalah Raisah Airinanda Simamora dari kategori SMP, Zhafarani Farzana Andriel dari kategori SMA, serta Mahir Hatta Mahadana yang sebelumnya berhasil meraih Juara 1 pada kategori SMP Boarding. Bagi ICBS, capaian ini tidak berdiri sendiri. Di balik nama-nama yang muncul dalam daftar peraih juara, ada proses pembinaan yang berlangsung secara bertahap dan melibatkan guru-guru Bahasa Arab. Salah satu proses pembinaan yang cukup panjang dijalani Mahir Hatta Mahadana sebelum mengikuti kompetisi tingkat provinsi.

Kepala SMP Insan Cendekia Harau, Ust. Tolan, S.Pd., Gr., menjelaskan bahwa Mahir menjalani karantina selama kurang lebih dua bulan bersama tim guru Bahasa Arab ICBS. Pembinaan tersebut melibatkan guru Bahasa Arab dari lingkungan ICBS, termasuk pengajar yang memiliki pengalaman pendidikan dari Timur Tengah. “Alhamdulillah persiapan untuk ananda Mahir itu sangat besar sekali. Dimulai dari pelatihan selama kegiatan tingkat provinsi, ananda kita dilatih sekitar kurang lebih dua bulan di karantina bersama tim guru Bahasa Arab ICBS,” jelasnya.
Sementara itu, salah satu pelatih OBA ICBS, Ustadz Alfikri Habibullah, S.Pd., menjelaskan bahwa pembinaan dilakukan secara bertahap. Materi yang diberikan mencakup mufradat, pemahaman teks Bahasa Arab, nahwu, sharaf, serta latihan soal yang disesuaikan dengan pola dan tingkat kesulitan OBA.
Pembinaan juga tidak diarahkan sekadar agar santri mampu menghafal materi. Mereka dilatih memahami konsep dan cara berpikir dalam menyelesaikan soal, sehingga ketika menemukan bentuk soal yang berbeda, santri tetap memiliki dasar untuk menentukan jawabannya. Proses panjang tersebut turut membentuk karakter belajar para santri. Menurut Ustadz Alfikri, kemauan belajar, ketekunan, disiplin, fokus, dan kesediaan memperbaiki kesalahan menjadi beberapa hal yang terlihat dalam diri Mahir selama menjalani pembinaan.
Bagi Mahir, proses menuju kompetisi tingkat provinsi juga menuntut kemampuan mengatur waktu. Di tengah aktivitas sebagai santri, ia harus membagi perhatian antara persiapan OBA, kegiatan asrama, pembelajaran, serta persiapan OSN yang juga sedang dijalaninya. “Tantangan paling berat yang ana hadapi adalah mengatur waktu antara belajar untuk OBA, kegiatan di asrama, dan persiapan lomba lainnya, terutama karena ana juga mengikuti OSN,” ungkap Mahir. Ia kemudian berusaha mengatasinya dengan menentukan prioritas, memanfaatkan waktu luang, dan menjaga kedisiplinan dalam latihan. Dukungan guru dan pembina juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses tersebut. Bagi Mahir, prestasi yang diraihnya bukan hasil dari perjuangan seorang diri. “Ana sangat berterima kasih kepada ustadz dan ustadzah yang telah membimbing ana dengan penuh kesabaran dan ketulusan. Mereka tidak hanya memberikan materi dan latihan, tetapi juga terus memberikan motivasi dan arahan ketika ana mengalami kesulitan,” tuturnya.
Dukungan tersebut juga datang dari lingkungan sekolah, asrama, teman-teman, serta seluruh pihak yang membantu santri selama menjalani pembinaan. Kolaborasi antara berbagai unsur tersebut menjadi ruang bagi santri untuk tetap belajar sekaligus menjaga kedisiplinan di tengah padatnya persiapan kompetisi.
Bagi pembina, capaian OBA ini juga memiliki makna yang lebih luas. Bahasa Arab tidak hanya dipersiapkan sebagai bidang perlombaan, tetapi merupakan salah satu bekal penting bagi santri dalam memahami Al-Qur’an yang diturunkan dalam bahasa Arab. Karena itu, kemampuan yang dibangun melalui pembinaan OBA diharapkan terus berkembang dan memberikan manfaat di luar arena kompetisi. Memasuki tingkat nasional, tantangan yang dihadapi tentu akan berbeda. Penguasaan mufradat, pemahaman teks, nahwu dan sharaf, serta kecepatan dan ketelitian dalam menjawab soal masih menjadi bagian yang perlu diperkuat. Para pembina juga akan melakukan evaluasi terhadap kekurangan yang ditemukan pada tahap sebelumnya.
Mahir sendiri telah menyiapkan targetnya. Kesempatan membawa nama Sumatera Barat ke tingkat nasional ingin dimanfaatkan sebaik mungkin dengan meningkatkan latihan dan memperdalam materi yang masih perlu diperbaiki. “Target ana tentunya ingin mendapatkan Juara 1 tingkat nasional, tetapi yang paling penting ana ingin memberikan hasil terbaik dan membawa nama baik orang tua serta ICBS,” ujarnya.
Rangkaian capaian pada OBA tingkat Provinsi Sumatera Barat ini memperlihatkan bahwa pembinaan Bahasa Arab di ICBS terus memberikan ruang bagi santri untuk berkembang dari berbagai jenjang. Dari proses belajar yang disiplin, pendampingan guru, hingga keberanian membawa kemampuan tersebut ke arena kompetisi, seluruhnya menjadi bagian dari ikhtiar pendidikan ICBS dalam membentuk santri yang tidak hanya memiliki kemampuan keilmuan, tetapi juga karakter untuk terus belajar dan berkembang. Hal ini sejalan dengan visi ICBS, “Mewujudkan Generasi yang Cerdas, Islami, Mandiri dan Berprestasi,” yang menempatkan ilmu, nilai keislaman, kemandirian, dan prestasi sebagai bagian yang berjalan bersama dalam perjalanan pendidikan santri.
