65 Santri ICBS Lulus ke Al-Azhar Kairo, Mesir: Ikhtiar Panjang Menuju Negeri Para Ulama

Kabar membanggakan kembali datang dari Insan Cendekia Boarding School (ICBS). Sebanyak 65 santri ICBS berhasil lulus dan melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar, Mesir, pada tahun 2026. Jumlah tersebut mengalami peningkatan signifikan dibanding tahun sebelumnya yang mencatat 42 santri berangkat ke negeri para nabi tersebut. Capaian ini menjadi salah satu bukti keseriusan ICBS dalam membina generasi muda yang siap menempuh pendidikan keilmuan Islam di tingkat internasional.
Pimpinan ICBS Harau sekaligus penanggung jawab Program Kelas Timur Tengah Kompleks Harau, Ust. H. Ihsan Ahmad, Lc., MA menyampaikan rasa syukur atas pencapaian para santri tahun ini. Menurut beliau, keberhasilan tersebut merupakan hasil dari proses panjang yang dipersiapkan secara serius oleh lembaga sejak dini. Ia menjelaskan bahwa pembinaan kelas Timur Tengah tidak dilakukan secara instan, melainkan dimulai sejak santri duduk di kelas 10 SMA dan diperkuat pada kelas 11 hingga kelas 12.
Pembelajaran yang diberikan pun tidak hanya berlangsung di ruang kelas pada pagi hari, tetapi juga dilanjutkan pada malam hari melalui penguatan kaidah bahasa Arab, kosa kata, hingga pemahaman kitab dan ilmu syar’i. Seluruh guru sekolah, guru syar’i, serta tim pengajar TIMTENG bekerja sama dalam membentuk lingkungan belajar yang mendukung santri untuk siap menghadapi proses seleksi menuju Al-Azhar. Menurut Ustadz Ihsan Ahmad, proses pembinaan ini adalah ikhtiar tiga tahun yang dijalani secara bertahap dan berkesinambungan.
Beliau juga menegaskan bahwa salah satu faktor penting di balik keberhasilan ini adalah arahan pimpinan pondok dalam mengembangkan program Timur Tengah sebagai langkah nyata mencetak calon ulama. Selain dukungan lembaga, kerja keras para asatidz, dukungan orang tua, dan kesungguhan para santri menjadi bagian penting yang saling menguatkan. “Anak-anak harus memiliki semangat dan keyakinan terhadap kemampuan mereka sendiri. Dari situlah lahir kesungguhan untuk mencapai tujuan besar tersebut,” jelas beliau.
Di balik capaian tersebut, perjalanan menuju Al-Azhar tentu tidak lepas dari tantangan. Salah satu tantangan terbesar, menurut beliau, adalah membangun kemampuan bahasa Arab santri agar benar-benar hidup dalam keseharian mereka. Pembiasaan berbicara bahasa Arab menjadi proses yang membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Selain itu, dinamika usia remaja juga menjadi ujian tersendiri dalam menjaga fokus dan komitmen belajar para santri selama masa persiapan.

Hal senada juga dirasakan oleh Amirah Aulia Fathonah Zahra, santri asal Dumai, Riau, yang turut dinyatakan lulus ke Universitas Al-Azhar Kairo. Ia mengaku awalnya tidak menyangka bisa sampai di titik tersebut. Rasa syukur, haru, dan bahagia bercampur menjadi satu ketika pengumuman kelulusan diterima. Baginya, keberhasilan ini bukan hanya pencapaian pribadi, tetapi juga jawaban dari doa orang tua, guru, dan seluruh pihak yang selama ini mendukung perjuangannya.
Amirah menceritakan bahwa proses persiapannya dimulai sejak memilih kelas Timur Tengah saat penjurusan di kelas 10. Sejak saat itu, ia bersama teman-temannya mulai lebih fokus mempelajari bahasa Arab dan ilmu-ilmu keagamaan, tanpa meninggalkan pelajaran umum seperti siswa lainnya. Menurutnya, proses tersebut tidak selalu mudah dan terkadang melelahkan, tetapi dukungan para ustadz, ustadzah, dan teman-teman seperjuangan membuatnya mampu bertahan hingga mencapai titik ini.
Ia juga menilai bahwa ICBS memiliki peran besar dalam mempersiapkan santri menuju studi di Timur Tengah. Melalui kelas TIMTENG, para santri mendapatkan pembelajaran syar’i dan bahasa Arab yang menjadi bekal utama untuk menghadapi kehidupan akademik di Al-Azhar. Selain pembelajaran rutin, para ustadz dan ustadzah juga menghadirkan program dauroh intensif di Bangkinang agar santri mendapatkan pembinaan yang lebih mendalam dan spesifik menjelang ujian. Di tengah proses itu, tantangan terbesar yang dirasakan Amirah justru datang dari dirinya sendiri, terutama dalam menjaga konsistensi belajar dan membangun kemandirian dalam memahami kitab serta materi pelajaran. Sebagai santri kelas akhir, ia menyadari bahwa godaan untuk bersantai dan menghabiskan waktu bersama teman-teman cukup besar. Namun dari proses itulah ia belajar tentang disiplin, komitmen, dan tanggung jawab dalam menuntut ilmu. Ke depan, Amirah berharap dapat memanfaatkan kesempatan belajar di Al-Azhar sebaik mungkin untuk memperdalam ilmu agama dan bahasa Arab, sekaligus belajar langsung dari para ulama di Mesir. Ia juga berharap dapat menjaga nama baik almamater dan membawa manfaat bagi masyarakat setelah menyelesaikan pendidikan nanti.
Sementara itu, Ustadz Ihsan Ahmad berpesan agar para santri yang berangkat ke Al-Azhar terus meluruskan niat dan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Menurut beliau, amanah belajar di Al-Azhar bukanlah amanah biasa, melainkan amanah besar sebagai pewaris ilmu para nabi. Para santri diharapkan kelak kembali ke tengah masyarakat sebagai penjaga umat yang mampu memberikan manfaat dan membimbing masyarakat dengan ilmu yang mereka miliki.
Capaian 65 santri menuju Al-Azhar Kairo ini kembali menegaskan komitmen ICBS dalam melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat dalam ilmu agama dan siap berkhidmat untuk umat. Sejalan dengan visi “Mewujudkan Generasi yang Cerdas, Islami, Mandiri, dan Berprestasi”, ICBS terus menghadirkan ruang pembinaan yang mampu mengantarkan santri menapaki jalan ilmu hingga ke negeri para ulama.
