Tim Futsal SMP IT ICBS Juara 1 ASIC 2 Se-Sumatera Barat

Kerja sama dan kekompakan membawa tim futsal SMP IT ICBS meraih juara 1 pada ajang ASIC 2 se-Sumatera Barat yang diselenggarakan oleh Abi Center Bukittinggi. Capaian tersebut menjadi catatan penting bagi pembinaan olahraga di ICBS. Salah seorang pemain, Zahid Khalilurrahim, santri asal Kota Solok yang kini menempuh pendidikan di SMP IT ICBS, mengaku bangga dan senang atas pencapaian yang diraih bersama tim. Bagi Zahid, kemenangan tersebut tidak hanya tentang gelar juara, tetapi juga menjadi hasil dari proses panjang yang telah mereka jalani bersama. “Kalau saya merasa bangga dan senang,” ujar Zahid.
Persiapan menghadapi kompetisi dilakukan sejak jauh-jauh hari. Tim menjalani latihan fisik, membangun kekompakan, serta melakukan sejumlah uji tanding. Meski sparing yang dilakukan tidak banyak, para pemain sempat beruji tanding dengan tim dari komplek lain di lingkungan ICBS. Proses tersebut menjadi bagian dari persiapan sebelum mereka menghadapi lawan-lawan dari luar lingkungan sekolah. Bagi Zahid, tantangan terbesar justru datang ketika harus berhadapan dengan tim dari luar. Selama ini para pemain lebih sering bertanding dengan tim dari lingkungan ICBS sehingga menghadapi kompetitor yang memiliki pengalaman dan kekuatan fisik berbeda menjadi pengalaman tersendiri. “Tantangannya mungkin mental. Soalnya kami sudah terbiasa di dalam, jadi ketemunya lawan itu saja. Setelah dibawa keluar, ternyata ada lawannya yang lebih berpengalaman dan fisik yang lebih kuat,” tuturnya. Namun, kondisi tersebut tidak membuat tim kehilangan kepercayaan diri. Zahid menilai kekompakan, hasil latihan, dan kerja sama antarpemain menjadi faktor penting yang mengantarkan mereka hingga keluar sebagai juara.

Hal serupa disampaikan pelatih tim futsal SMP IT ICBS, Ustadz Irfan Diraihan, S.Pd. Menurutnya, gelar juara 1 ASIC 2 se-Sumatera Barat bukan sekadar hasil akhir pertandingan, tetapi buah dari kerja keras, kedisiplinan, doa, dan perjuangan para santri. “Capaian ini bukan sekadar tentang mengangkat piala, tetapi merupakan bukti nyata dari kerja keras, kedisiplinan, serta buah dari doa dan perjuangan para santri,” ungkapnya. Ustadz Irfan menjelaskan bahwa persiapan tim dilakukan dengan memadukan latihan fisik, taktik, serta pembinaan karakter dan spiritual. Para pemain mendapatkan penguatan stamina, penyempurnaan teknik dasar, latihan strategi transisi permainan, hingga uji tanding untuk membangun kesiapan menghadapi pertandingan.
Di sisi lain, para santri juga dilatih untuk mengatur waktu antara kegiatan akademik, ibadah, hafalan, dan latihan. Nilai sportivitas terus ditanamkan, termasuk membiasakan doa bersama sebelum pertandingan. Saat kompetisi berlangsung, tim harus menghadapi lawan-lawan kuat dari berbagai daerah di Sumatera Barat, pertandingan yang menguras fisik, serta tekanan mental pada momen-momen penting. Menurut Ustadz Irfan, ketenangan, rasa saling percaya, kedisiplinan dalam mengikuti instruksi, serta doa dan zikir menjadi bagian dari upaya tim menjaga fokus selama pertandingan. Ia juga melihat karakter para pemain menjadi salah satu kekuatan utama. Selain memiliki daya juang dan kedisiplinan, para santri dinilai mampu menjaga adab dan sportivitas. Kehidupan bersama di lingkungan boarding turut membangun kedekatan antarpemain karena mereka terbiasa menjalani aktivitas bersama, mulai dari beribadah, makan, hingga belajar. “Kebiasaan beribadah, makan, dan belajar bersama memperkuat rasa saling percaya dan komunikasi yang solid di dalam maupun di luar lapangan,” jelasnya. Keberhasilan tersebut juga tidak terlepas dari dukungan sekolah. Ustadz Irfan menyebut pimpinan memberikan dukungan melalui dispensasi, fasilitas latihan, serta kebutuhan operasional selama tim mengikuti kompetisi. Zahid turut merasakan dukungan tersebut. Menurutnya, ICBS membantu tim melalui berbagai kebutuhan selama proses persiapan dan pertandingan, termasuk pelatih, transportasi, fasilitas latihan, hingga uang makan ketika berada di Bukittinggi.
Kepala SMP IT ICBS, Ustadz Dr. Vikri Rahmaddani, S.Sos., M.A., menyampaikan rasa syukur atas prestasi yang diraih para santri. Ia menilai capaian di bidang olahraga ini menjadi bukti bahwa ICBS memberikan ruang bagi santri untuk berkembang sesuai dengan potensi masing-masing. Selama ini, prestasi santri ICBS banyak terlihat dalam bidang akademik, seperti olimpiade IPA, IPS, dan berbagai kompetisi lainnya. Namun, menurut Ustadz Vikri, tidak semua santri memiliki potensi utama di bidang akademik. Karena itu, olahraga dan kegiatan ekstrakurikuler juga menjadi ruang penting bagi santri untuk menemukan dan mengembangkan kemampuan mereka. “Di ICBS kita juga menyiapkan santri-santri yang mungkin potensi dirinya tidak ada di akademik, namun di olahraga ataupun di ekstrakurikuler lainnya kita juga memberi ruang kepada anak-anak kita,” ungkapnya. Ia memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam pencapaian tersebut, mulai dari mudir, jajaran pembinaan, guru pembina, pelatih, hingga para santri yang telah berjuang di lapangan. Prestasi ini sekaligus menjadi dorongan bagi tim untuk tidak berhenti pada satu kemenangan. Ustadz Irfan berharap para pemain tetap rendah hati, terus berlatih, dan mampu mempertahankan gelar hingga memiliki kesempatan tampil pada kompetisi tingkat nasional. Sementara itu, Ustadz Vikri berpesan agar para santri tidak cepat puas dan terus mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai kompetisi berikutnya. “Bukan hanya event ini saja, namun kita mempersiapkan juga event-event selanjutnya. Tetap rendah hati, tetap berlatih, lebih semangat lagi,” pesannya.
Bagi Zahid sendiri, perjalanan di ASIC 2 diharapkan dapat menjadi motivasi bagi adik-adik dan teman-teman yang akan melanjutkan perjalanan prestasi ICBS di berbagai ajang lainnya. Dari lapangan futsal, para santri belajar bahwa kemenangan dibangun melalui latihan, kerja sama, keberanian menghadapi tantangan, dan kemauan untuk terus berkembang. Semangat tersebut sejalan dengan visi ICBS untuk mewujudkan generasi yang cerdas, Islami, mandiri dan berprestasi.

